Penerapan Kecerdasan Buatan Dalam Sistem Informasi

Jumat, 01 Februari 2013 | Dipost oleh : Admin TF | Kategori : Info TF

Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan merupakan salah satu bagian ilmu komputer yang membuat agar mesin (komputer) dapat melakukan pekerjaan seperti dan sebaik yang dilakukan oleh manusia. Ada pula dikenal istilah Intelligence System atau sistem cerdas yang merupakan suatu sistem yang dibangun dengan menggunakan teknik-teknik artificial intelligence. Di dalam Artificial Intelligence dikenal dengan adanya soft computing yang bertujuan untuk mengeksploitasi adanya toleransi terhadap ketidaktepatan, ketidakpastian, dan  kebenaran parsial untuk dapat diselesaikan dengan mudah, robustness dan biaya penyelesaiannya murah. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Sri Kusumadewi dalam Kuliah Umum Jurusan Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Adisutjipto (STTA), Rabu (9/1).

Salah satu contoh dari Artificial Intelligence yang termasuk dalam soft computing antara lain X-47B Unmanned Combat Air Systems (UCAS) Demonstrator yang juga termasuk dalam kategori pesawat tanpa awak (Unmanned Aerial Vehicle). Pesawat tanpa awak  merupakan pesawat yang sering digunakan dalam bidang militer.

Artificial Intelligence digunakan untuk membantu manusia dalam menyelesaikan masalah yang bersifat kompleks karena untuk masalah yang sederhana yang bisa diselesaikan secara analitis maka dapat diselesaikan secara analitis, tidak perlu dengan menggunakan Artificial Intelligence.

Ada satu hal yang tidak bisa dilakukan dengan menggunakan Artificial Intelligence, yaitu hubungan sosial karena hubungan sosial tidak bisa digantikan dengan mesin (komputer). Misalnya saja pada kasus komunikasi antara dokter dengan pasien. Di dalam mendiagnosa penyakit pasien, dokter membutuhkan interaksi komunikasi dengan pasien terkait dengan penyakit yang diderita oleh pasien tersebut. Gejala-gejalanya (apa saja yang dirasakan oleh pasien), apa saja yang telah dikonsumsinya, sudah minum obat atau belum, aktivitasnya seperti apa, dan lain sebagainya. Interaksi komunikasi seperti itulah yang tidak bisa digantikan oleh mesin (komputer).  Begitu pula pada kasus pemberian obat yang dilakukan oleh Apoteker pada pasien. Pada aturan cara minum obat yang tertulis tiga kali sehari biasanya dipersepsikan oleh pasien sebagai cara minum obat pada pagi, siang, sore/malam hari. Namun sebenarnya obat tersebut harus diminum dengan interval atau jarak waktu setiap delapan jam sehari. Hal-hal seperti itulah yang belum bisa digantikan oleh mesin (komputer).

Selain kuliah umum, juga dilaksanakan sosialisasi kurikulum baru oleh Hero Wintolo, S.T., M. Kom., selaku Ketua Jurusan Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Adisutjipto. Perubahan kurikulum tersebut dilandasi oleh dua landasan hukum, antara lain Panduan Penyusunan Kurikulum Rumpun Ilmu Informatika APTIKOM 2008 dan Undang-Undang Sisdiknas 2012. Diharapkan dengan adanya perubahan kurikulum tersebut, kualitas pengetahuan yang didapatkan oleh mahasiswa selama mengikuti kuliah akan semakin baik dan ke depannya akan sangat membantu mereka pada saat telah bekerja baik di instansi/perusahaan maupun ketika mereka berwirausaha.