Diskusi Ilmiah Dalam Rangka Temu Ilmiah Mahasiswa
Diskusi Ilmiah Dalam Rangka Temu Ilmiah Mahasiswa Teknik Indonesia XIV Diskusi Ilmiah dengan Tema "Inovasi Teknologi dan Aplikasinya Dalam Menghadapi Perubahan Iklim" diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STTA dalam rangka Temu Ilmiah Mahasiswa Teknik Indonesia XIV. Temu Ilmiah yang merupakan agenda tahunan Perhimpunan Mahasiswa Teknik Indonesia (PMTI) dihadiri 200 peserta dari 22 perguruan tinggi seluruh Indonesia. Ketua Panitia, Edhyzon mengemukakan bahwa forum ini bertujuan membangun komunikasi antar mahasiswa teknik se-Indonesia dalam memberikan kontribusi pada pembangunan nasional serta meningkatkan nasionalisme dengan mempererat tali persaudaraan antar BEM Teknik se-Indonesia. Diskusi panel menghadirkan pembicara Deputi Menristek Bidang Dinamika Masyarakat, Prof. Dr. Ir. Carunia Mulya Firdausy, MA, APU, pakar AMDAL Dr. Ir. Abdul Razak Manan MM, MSi dari The Climate Program (TCP) Indonesia dan M. Ali Akbar dari Walhi Pusat. Pada sesi diskusi, Abdul Razak Manan menjelaskan tentang"Dalam menghadapi perubahan iklim, saat ini para ilmuwan di seluruh dunia sedang berlomba-lomba melakukan penelitian, pengembangan dan perekayasaan untuk meningkatkan corpus pengetahuan yang dapat dijadikan modal membangun masyarakat berbasis pengetahuan atau knowledge base society yang berwawasan lingkungan guna membangun dunia kembali kepada suatu sistem yang nyaman, sehat dan lestari. Kondisi ini menuntut kemampuan kita untuk berpikir sistematis, analitis, sistemik, komprehensif, mendalam serta integral untuk menghasilkan corpus pengetahuan bagi suatu sistem yang kita inginkan tersebut", demikian diungkapkan Deputi Menristek Bidang Dinamika Masyarakat, Prof. Dr. Ir. Carunia Mulya Firdausy, MA, APU saat membacakan sambutan Menristek pada Diskusi Ilmiah yang diadakan di Kampus Sekolah Tinggi Teknologi Adisutjipto ( STTA ), hari Senin ( 14/12 ).
peran TCP dalam menghadapi krisis iklim. Lembaga nirlaba yang didirikan mantan wapres Amerika Al Gore itu berupaya meningkatkan kepedulian masyarakat menghadapi krisis iklim pada tingkat akar rumput di seluruh dunia. Abdul Razak menambahkan bahwa dampak perubahan iklim bukan hanya kenaikan muka air laut, tetapi juga terjadinya kerentanan pangan, krisis air bersih, meningkatnya kerawanan kesehatan, meningkatnya temperatur muka bumi dan anomali iklim. Untuk itu perlu dilakukan teknik adaptasi serta mitigasi yaitu teknik pengurangan dan pencegahan perubahan iklim. Sementara itu, Ali Akbar memperingatkan suatu saat nanti ketika tetes air sehat terakhir sudah diminum, kita baru menyadari bahwa uang tidak bisa kita makan.

